Minggu, 01 Agustus 2010

KOPI LUWAK

Kopi Luwak adalah seduhan kopi menggunakan biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak/musang.Biji kopi ini diyakini memiliki rasa yang berbeda dengan biji kopi biasa karena biji kopi ini setelah dimakan luwak/musang akan melewati saluran pencernaan luwak/musang di dalam usus luwak/musang ini terjadi fermentasi terhadap biji kopi ini. Kemasyhuran kopi luwak/musang ini di kawasan Asia Tenggara telah lama diketahui, namun baru menjadi terkenal luas di peminat kopi gourmet setelah publikasi pada tahun 1980-an. Biji kopi luwak adalah yang termahal di dunia, mencapai USD 200 per 450 gram.

Kemasyhuran kopi ini diyakini karena kepercayaan penduduk sekitar kebun kopi terhadap luwak/musang yang memilih kopi yang akan di makannya pastilah kopi yang terbaik yang ada dikebun kopi.Jika kita menyangka bahwa yang akan dimakan luwak /musang adalah kopi yang masak (warna merah) ternyata tidak semua biji kopi yang masak tersebut yang dimakannya tetapi dipilih diantara yang betul-betul masak tersebut.Jadi kopi luwak ini bukanlah biji kopi pilihan manusia akan tetapi adalah biji kopi terbaik pilihan alam melalui hewan yang bernama luwak/musang.Dan setelahnya biji kopi dimakan luwak/musang, biji kopi bagian dalam yang dilindungi kulit keras tidak tercerna oleh pencernaan luwak biji kopi tersebut akan keluar bersama kotoran luwak. Biji kopi seperti inilah, sejak dahulu selalu diburu oleh para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan telah difermentasikan secara alami dalam perut luwak. Dan konon, rasa kopi luwak ini memang benar-benar berbeda dan spesial di kalangan para penggemar dan penikmat kopi.

Hadiah Yang Istimewa

Kopi luwak memang telah terkenal sebagai kopi yang terenak dan termahal di dunia.bahkan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono tidak segan menghadiahkan kopi luwak sebagai buah tangan dari Indonesia kepada sahabatnya perdana menteri Australia Kevin Rudd pada kunjungannya ke Australia diawal maret 2010.

Komoditi special

Kopi Luwak menjadi sangat mahal dan susah didapat karena produksinya yang sangat terbatas.menurut para petani kopi yang mencari kopi luwak.produksi kopi luwak agak banyak di jumpai disaat panen kopi,waktu panen kopi ini hanya satu kali dalam setahun.Kalau pada waktu tidak musim kopi mencari kotoran luwak yang ada biji kopinya sangat susah,kalaupun di temukan sering tercampur dengan biji-bijian lainnya.

Kopi Luwak yang di Ternakkan.

Untuk mengakali ketersediaan kopi luwak tidak sedikit para petani kopi yang mencoba untuk menternakkan luwak untuk memproduksi kopi luwak.Tetapi beberapa penikmat kopi luwak mengatakan kopi luwak yang didapat dari alam liar jauh lebih enak di bandingkan kopi luwak yang di ternakkan.Hal ini mungkin di sebabkan jika luwak yang di ternakkan hanya memakan biji kopi saja.sedangkan luwak yang hidup liar di hutan disamping memakan biji kopi juga memakan buah-buahan dan hewan-hewan kecil lainnya.

Menu Spesial.

Kopi luwak sekarang telah menjadi menu yang special di beberapa kedai kopi ternama seperti starbuck dll.

Bagi anda pemilik kedai kopi,restaurant dan hotel yang berkelas ingin menjadikan kopi luwak menjadi salah satu menu yang istimewa di restaurant anda.anda dapat menhubungi kami,dengan sedang hati kami siap menjadi suplayer kopi luwak untuk usaha anda.Kopi luwak yang kami tawarkan kepada anda adalah kopi luwak yang did apt dari alam bebas yang dikumpulkan oleh petani di sekitar kebun kopi di beberapa tempat di pulau sumatera.

Jika anda tertarik untuk mencoba kopi luwak.Silahkan hubungi kami.nanti akan kami kirimkan daftar penawaran harga bersama ongkos kirimnya.terima kasih

Rabu, 28 Juli 2010

Luwak Coffee (civet coffee)

Luwak (civet)

Sumatran kopi luwak farmer shows beans prior to cleaning and roasting, Sumatra, Indonesia
Kopi luwak (Indonesian [ˈkopi ˈlu.ak]), or civet coffee, is coffee made from the beans of coffee berries which have been eaten by the Asian Palm Civet (Paradoxurus hermaphroditus) and other related civets, then passed through its digestive tract.[1] A civet eats the berries for their fleshy pulp. In its stomach, proteolytic enzymes seep into the beans, making shorter peptides and more free amino acids. Passing through a civet's intestines the beans are then defecated, having kept their shape. After gathering, thorough washing, sun drying, light roasting and brewing, these beans yield an aromatic coffee with much less bitterness, widely noted as the most expensive coffee in the world.
Kopi luwak is produced mainly on the islands of Sumatra, Java, Bali and Sulawesi in the Indonesian Archipelago, and also in the Philippines (where the product is called motit coffee in the Cordillera and kape alamid in Tagalog areas) and also in East Timor (where it is called kafé-laku). Weasel coffee is a loose English translation of its name cà phê Chồn in Vietnam, where popular, chemically simulated versions are also produced.
Background
Luwak Coffee (civet coffee)

Young Asian palm civet (Paradoxurus hermaphroditus)
Kopi is the Indonesian word for coffee. Luwak is a local name of the Asian palm civet in Sumatra. Palm civets are primarily frugivorous, feeding on berries and pulpy fruits such as from fig trees and palms. Civets also eat small vertebrates, insects, ripe fruits and seeds.[2].
When coffee plants are put into civet habitats, the civets forage on only the ripest and sweetest berries. Hence, farmers would often find their best coffee berries missing in the morning after civets had been feeding and they were seen as pests. Meanwhile farmers hoping to save their crop gathered the civet droppings and found these beans, which were darkened and more brittle, yielded a coffee with unusual taste and lack of bitterness.[citation needed]
Production
Early production began when beans were gathered in the wild from where a civet would defecate as a means to mark its territory. On farms, civets are either caged or allowed to roam within defined boundaries.[1]
Coffee cherries are eaten by a civet for their fruit pulp. After spending about a day and a half in the civet's digestive tract[3] the beans are then defecated in clumps, having kept their shape and still covered with some of the fleshy berry's inner layers. They are gathered, thoroughly washed, sun dried and given only a light roast so as to keep the many intertwined flavors and lack of bitterness yielded inside the civet.
Cultivars, blends, and tastes
Kopi luwak is a name for many specific cultivars and blends of arabica, robusta, liberica, excelsa or other beans eaten by civets, hence the taste can vary greatly. Nonetheless, kopi luwak coffees have a shared aroma profile and flavor characteristics, along with their lack of bitterness. Coffee critic Chris Rubin has said, "The aroma is rich and strong, and the coffee is incredibly full bodied, almost syrupy. It’s thick with a hint of chocolate, and lingers on the tongue with a long, clean aftertaste."[3]
Kopi luwak tastes unlike heavy roasted coffees, since roasting levels range only from cinnamon color to medium, with little or no caramelization of sugars within the beans as happens with heavy roasting. Moreover, kopi luwaks which have very smooth profiles are most often given a lighter roast. Iced kopi luwak brews may bring out some flavors not found in other coffees.
Sumatra is the world's largest regional producer of kopi lowak. Sumatran civet coffee beans are mostly an early arabica variety cultivated in the Indonesian archipelago since the seventeenth century. Tagalog cafe alamid (or alamid cafe) comes from civets fed on a mixture of coffee beans and is sold in the Batangas region along with gift shops near airports in the Philippines.